Tuesday, August 29, 2006

I'm too tired ...

aku lelah... sangat lelah... segala rutinitas yang ada di sini, membuat diriku mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit ... otakku, badanku, mataku, kaki dan tanganku, semuanya lelah ... heehhh... urusan dengan database memang tidak ada habisnya, bahkan mungkin semua ini akan terus berlanjut dan berlanjut. Aku ingin istirahat, barang sejenak...

Friday, August 25, 2006

A Copy of note (2) ...

Teman, seperti apakah sikap kita dalam menghadapi tantangan dalam
kehidupan ini ?

Apakah kita merasa kehidupan ini tidak adil karena selalu memberikan
halangan yang datang silih berganti ?

Apakah beban yang datang membuat emosi kita menjadi tak terkendali ?

Ataukah kita mau belajar dari berbagai halangan itu untuk mewujudkan
kehidupan yang lebih baik ?

Kita dilahirkan bukan sebagai seorang pecundang
Tidak juga sebagai seorang pemenang

Tapi kita dilahirkan dengan kemampuan untuk memilih
Jadi pilihlah sikap yang tepat, untuk kehidupan yang lebih baik ………..

A Copy of note ...

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan
menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak
tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah
untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul
masalah baru. Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur.
Ia mengisi
3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh
wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh
kopi bubuk di panci terakhir.
Ia membiarkannya mendidih tanpa
berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar,
memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit,
sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di
mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain,
dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat,
nak?" "Wortel, telur, dan kopi" jawab si anak. Ayahnya mengajaknya
mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan
merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya
mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia
mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya
memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi
dengan aromanya yang khas.
Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti
semua ini, Ayah ?"

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah
menghadapi 'kesulitan' yang sama, melalui proses perebusan, tetapi
masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum
direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus,
wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah.
Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi
setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami
perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi
merubah air tersebut.

"Kamu termasuk yang mana ?," tanya ayahnya. "Ketika
kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu
wortel, telur atau kopi ? "Apakah kamu adalah wortel yang
kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan,
kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu."

"Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati
lembut ? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian,
patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan
kaku.
Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan
keras dengan jiwa dan hati yang kaku ?"

"Ataukah kamu adalah bubuk kopi ? Bubuk kopi merubah air
panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya
yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai
suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat." "Jika kamu seperti bubuk
kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi
semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik."

"Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu
menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri …".

Thursday, August 24, 2006

another thought...

Jogjakarta, August 24th, 2006, timestamp : 10.41pm

aku sedang mengerjakan sesuatu di kantor, persiapan untuk beberapa waktu yang akan datang, serangkaian data harus kupersiapkan, karena kebetulan lokasi tempatku bekerja dipilih untuk mempresentasikan data tersebut. Entah mengapa, aku juga tidak tahu... yang pasti, bahwa hal ini sangat menguras tenagaku... sangat... namun hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa kutolak lagi, saat pertama kali aku menyanggupi untuk mengikuti pelatihannya. Meskipun bayangan tentang betapa ribet pekerjaanku ini nantinya, namun aku tidak pernah menyangka bahwa hal ini akan teramat sangat ribet seperti ini...

beberapa lama, saat ada waktu senggang diriku untuk merenung, aku sering merenungkan kembali apa-apa yang telah aku lakukan, apa-apa yang telah aku ucapkan terhadap seseorang, atau bagaimana dengan keadaan diriku sendiri. Sungguh merupakan hal yang sangat tidak mengenakkan, mengingat bahwa kita selayaknya sadar kalau diri kita adalah 'tidak ada apa-apanya'. entah mengapa tiba-tiba hal itu jadi muncul dalam pikiranku, tapi... memang kalau kita mau menilik, melihat, dan merenungkannya, bahwa kita memang tidak ada apa-apanya.

betapa mudah kondisi seseorang berubah, dari hal yang paling sederhana, paling ringan, hingga dia mengalami hal-hal yang paling ribut, ribet, dan kadang justru menyakitkan sama sekali. apakah hukum bahwa roda kehidupan memang berputar masih berlaku di sini? ataukah memang bahwa hal itu hanyalah merupakan sugesti yang akhirnya justru terjadi benar-benar? aku meyakini sesuatu, bahwa seluruh kejadian yang ada di dalam hidupku ini memang sudah ditentukan, bahkan dengan adanya usaha-usahaku untuk merubah segala hal yang sudah digariskan tersebut. aneh memang jika direnungkan, tapi itulah kejadinnya... kalau memang kurang memahami, maka perbanyaklah merenungkan tentang hidup...