Tuesday, May 08, 2007

Qira'at Al-Qur'an

Oleh. Haditya Endrakusuma

Qira?at, orang awam biasanya mendefinisikan sebagai seni membaca Al Qur?an. Namun, yang tergambar dipikiran umum, seni itulah yang dibayangkan sebagai ?mendendangkan? ayat Qur?an dengan suara yang merdu (seperti menyanyi). Akhirnya, bila ada orang membaca Al Qur?an dengan suara biasa-biasa saja itu tidak dikatakan sebagai Qira?at. Anggapan ini sebenarnya salah.

Qira?at sebetulnya berarti membaca dari ingatan (recitation from memory). Jadi, Qira?at itu adalah membaca al Qur?an dari hafalan. Memang al Qur?an diajarkan oleh Rasul itu melalui metode hafalan. Nah, tulisan atau text disini berfungsi sebagai alat penunjang hafalan. Selain itu tulisan atau text tersebut juga sebagai ?tools? untuk menyimpan hafalan yang diajarkan Rasul supaya kelak dikemudian hari hafalan itu tetap terjaga.

Munculnya Qira?at sendiri itu adalah dari bahasa Arab sendiri. Seperti halnya bahasa lain di dunia, bahasa Arab juga punya dialek khas masing-masing daerah. Karena adanya ragam dialek bahasa Arab tersebut, maka Rasul pun mengajarkan 7 (tujuh) macam variasi dialek dalam membaca al Qur?an yang kemudian disebut Qira?at Sab?at ahruf.

Lebih jelasnya tentang masalah sab?at ahruf ini, silahkan buka tulisan-tulisan karya Ibn Mujahid yaitu ?al-Sab? dan baca juga karya Manna al Qattan dalam ?Mabahith fi Ulum al Qur?an? dan tulisan al Suyuthi dalam ?al-Itqan fi Ulum al Qur?an? sebagai pembandingnya.

Masalah variasi bacaan ini pulalah yang sering di perdebatkan oleh para Ilmuan Orientalis. Seperti yang kita ketahui, sebelum al Qur?an dikumpulkan dalam satu mushaf standart (mushaf Uthmani), para Sahabat sebelumnya telah mengumpulkan hafalan-hafalan mereka dalam tulisan di lembaran kertas, tulang, daun dan berbagai macam media tulis yang kemudian menjadi mushaf-mushaf pribadi untuk dikonsumsi sendiri Nah, para Orientalis tersebut menganggap variasi bacaan Al Qur?an itu timbul karena perbedaan penulisan text al Qur?an ini. Ujung-ujung-nya mereka berkesimpulan bahwa al Qur?an itu sebenarnya tidak orisinil karena terdapat berbagai macam perbedaan variasi bacaan itu (padahal mereka sendiri tidak tahu pasti bagaimana sebetulnya bentuk yang asli dari al Qur?an). Oleh sebab itu pulalah, mereka menolak Mushaf Uthmani karena dianggap tidak mengakomodir berbagai perbedaan tersebut.

Para Orientalis tersebut kemudian menganggap bahwa kodifikasi (pengumpulan tulisan) al Qur?an dalam mushaf Utmani tersebut belum selesai dan sempurna. Oleh karenanya, mereka mengajukan ide untuk kembali untuk mengedit ulang al Qur?an versi mushaf Utmani. Bagi mereka, mushaf Uthmani tersebut hanyalah rekayasa politis Uthman untuk melestarikan kekuasaannya dan hegemoni suku Qurais. Kita bisa melihat contohnya seperti usaha Arthur Jeffery dan Anthony Puin yang ingin membuat edisi kritis al Qur?an dengan mengeksplorasi berbagai macam variasi tulisan-tulisan ?text? pada mushaf-mushaf pra mushaf Uthmani. Hasil penelitian Jeffery inilah yang sekarang diadopsi oleh Taufiq Adnan Kamal, salah seorang dosen dan aktivis Jaringan Islam Liberal dengan proyeknya membuat ?Al Qur?an edisi Kritis?.

Usaha-usaha para ilmuan Orientalis semacam Arthur Jeffery tersebut, sebenarnya berangkat dari kesalahan asumsi tentang Qira?at. Mereka menganggap al Qur?an adalah sebuah dokumen text tertulis bukan sebagai sebuah bacaan dari hafalan (recitatio). Dengan asumsi inilah mereka beranggapan bahwa apa yang terjadi dalam text al Qur?an dan text Bible pada dasarnya sama, lantas mereka menerapkan metode filologi yang lazim dipakai dalam penelitian Bible seperti historical criticism, source criticism, form criticism dan textual criticism.

Apakah variasi bacaan itu muncul dari ragam perbedaan ? rasm? atau text?, Syamsuddin Arief dalam artikelnya ?al Qur?an, Orientalisme dan Lexemberg? (Jurnal Al Insan Vol 1 No. 1, 2005) menjawab bahwa asumsi para Orientalis itu keliru, sebab ragam Qira?at itu telah ada sebelum adanya text al Qur?an. Para Orientalis itu tidak paham, bahwa ragam Qira?at itu sendiri memang telah muncul dari Rasulullah saw melalui riwayat yang mutawatir. Tulisan atau rasm al Qur?an yang ada sekarang ini (dalam mushaf Uthmani) sebetulnya telah disepakati dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat mewakili dan menampung berbagai Qira?at yang mutawatir tersebut.

Wallahu'allam bi asshowab

No comments: