Tuesday, May 08, 2007

Qira'at Al-Qur'an

Oleh. Haditya Endrakusuma

Qira?at, orang awam biasanya mendefinisikan sebagai seni membaca Al Qur?an. Namun, yang tergambar dipikiran umum, seni itulah yang dibayangkan sebagai ?mendendangkan? ayat Qur?an dengan suara yang merdu (seperti menyanyi). Akhirnya, bila ada orang membaca Al Qur?an dengan suara biasa-biasa saja itu tidak dikatakan sebagai Qira?at. Anggapan ini sebenarnya salah.

Qira?at sebetulnya berarti membaca dari ingatan (recitation from memory). Jadi, Qira?at itu adalah membaca al Qur?an dari hafalan. Memang al Qur?an diajarkan oleh Rasul itu melalui metode hafalan. Nah, tulisan atau text disini berfungsi sebagai alat penunjang hafalan. Selain itu tulisan atau text tersebut juga sebagai ?tools? untuk menyimpan hafalan yang diajarkan Rasul supaya kelak dikemudian hari hafalan itu tetap terjaga.

Munculnya Qira?at sendiri itu adalah dari bahasa Arab sendiri. Seperti halnya bahasa lain di dunia, bahasa Arab juga punya dialek khas masing-masing daerah. Karena adanya ragam dialek bahasa Arab tersebut, maka Rasul pun mengajarkan 7 (tujuh) macam variasi dialek dalam membaca al Qur?an yang kemudian disebut Qira?at Sab?at ahruf.

Lebih jelasnya tentang masalah sab?at ahruf ini, silahkan buka tulisan-tulisan karya Ibn Mujahid yaitu ?al-Sab? dan baca juga karya Manna al Qattan dalam ?Mabahith fi Ulum al Qur?an? dan tulisan al Suyuthi dalam ?al-Itqan fi Ulum al Qur?an? sebagai pembandingnya.

Masalah variasi bacaan ini pulalah yang sering di perdebatkan oleh para Ilmuan Orientalis. Seperti yang kita ketahui, sebelum al Qur?an dikumpulkan dalam satu mushaf standart (mushaf Uthmani), para Sahabat sebelumnya telah mengumpulkan hafalan-hafalan mereka dalam tulisan di lembaran kertas, tulang, daun dan berbagai macam media tulis yang kemudian menjadi mushaf-mushaf pribadi untuk dikonsumsi sendiri Nah, para Orientalis tersebut menganggap variasi bacaan Al Qur?an itu timbul karena perbedaan penulisan text al Qur?an ini. Ujung-ujung-nya mereka berkesimpulan bahwa al Qur?an itu sebenarnya tidak orisinil karena terdapat berbagai macam perbedaan variasi bacaan itu (padahal mereka sendiri tidak tahu pasti bagaimana sebetulnya bentuk yang asli dari al Qur?an). Oleh sebab itu pulalah, mereka menolak Mushaf Uthmani karena dianggap tidak mengakomodir berbagai perbedaan tersebut.

Para Orientalis tersebut kemudian menganggap bahwa kodifikasi (pengumpulan tulisan) al Qur?an dalam mushaf Utmani tersebut belum selesai dan sempurna. Oleh karenanya, mereka mengajukan ide untuk kembali untuk mengedit ulang al Qur?an versi mushaf Utmani. Bagi mereka, mushaf Uthmani tersebut hanyalah rekayasa politis Uthman untuk melestarikan kekuasaannya dan hegemoni suku Qurais. Kita bisa melihat contohnya seperti usaha Arthur Jeffery dan Anthony Puin yang ingin membuat edisi kritis al Qur?an dengan mengeksplorasi berbagai macam variasi tulisan-tulisan ?text? pada mushaf-mushaf pra mushaf Uthmani. Hasil penelitian Jeffery inilah yang sekarang diadopsi oleh Taufiq Adnan Kamal, salah seorang dosen dan aktivis Jaringan Islam Liberal dengan proyeknya membuat ?Al Qur?an edisi Kritis?.

Usaha-usaha para ilmuan Orientalis semacam Arthur Jeffery tersebut, sebenarnya berangkat dari kesalahan asumsi tentang Qira?at. Mereka menganggap al Qur?an adalah sebuah dokumen text tertulis bukan sebagai sebuah bacaan dari hafalan (recitatio). Dengan asumsi inilah mereka beranggapan bahwa apa yang terjadi dalam text al Qur?an dan text Bible pada dasarnya sama, lantas mereka menerapkan metode filologi yang lazim dipakai dalam penelitian Bible seperti historical criticism, source criticism, form criticism dan textual criticism.

Apakah variasi bacaan itu muncul dari ragam perbedaan ? rasm? atau text?, Syamsuddin Arief dalam artikelnya ?al Qur?an, Orientalisme dan Lexemberg? (Jurnal Al Insan Vol 1 No. 1, 2005) menjawab bahwa asumsi para Orientalis itu keliru, sebab ragam Qira?at itu telah ada sebelum adanya text al Qur?an. Para Orientalis itu tidak paham, bahwa ragam Qira?at itu sendiri memang telah muncul dari Rasulullah saw melalui riwayat yang mutawatir. Tulisan atau rasm al Qur?an yang ada sekarang ini (dalam mushaf Uthmani) sebetulnya telah disepakati dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat mewakili dan menampung berbagai Qira?at yang mutawatir tersebut.

Wallahu'allam bi asshowab

Bersyukurlah...

"AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN..."

Kata-Kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

Pertama :
Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan,bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi target dan keinginan.
Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan ..
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang ''kaya''. Orang yang ''kaya'' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan,tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah :
Kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya. Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar.

Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.

Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ''Lulu, Lulu.'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu''. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.'' Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ''Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.''

Bersyukurlah !

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ...
Di masa itulah kamu tumbuh ...

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif ...

Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu ...

Wednesday, May 02, 2007

I LOVE JUST THE WAY YOU ARE.. JUST THE WAY IT IS..

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta."
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali."

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya."

Gurunya kemudian menjawab "Jadi ya itulah cinta."

Dihari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan."

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/ subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya."

Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan."

Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta, suatu proses mendapatkan kesempatan. Ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya..

Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.....

Marriage is like a wine, it should gets better as it grows older........

APAKAH ISLAM PERLU PENCERAHAN?

Oleh. Haditya Endrakusuma .)*

Pada hari Rabu tanggal 14 Maret 2007, Kaltim Post memuat sebuah artikel yang berjudul “Gerakan Pencerahan dalam Sejarah Peradaban Islam”. Dalam artiket tersebut dibahas mengenai dikotomisasi antara wahyu dan akal dalam sejarah keilmuan Islam. Menurut penulisnya, munculnya dikotomisasi antara wahyu dan akal tersebut adalah penyebab timbulnya gerakan pencerahan dalam sejarah peradapan Islam. Hal tersebut dipicu oleh pemahaman taqlid yang jumud dan kaku terhadap Al Qur’an dan Hadits. Artikel tersebut juga menulis mengenai sebab awal gerakan pencerahan ini karena pengaruh sentuhan spekulatif filsafat Yunani yang katanya terbukti sangat mempengaruhi pola pikir sebagian cendikiawan Muslim.

Menarik jika mengamati tulisan-tulisan dalam artikel tersebut. Namun, ada beberapa hal patut dipertanyakan, apakah benar dalam Islam memang telah terjadi dikotomisasi antara wahyu dan akal. Kemudian kaitannya dengan istilah “gerakan pencerahan” dalam artikel tersebut, apakah benar proses perkembangan keilmuan dalam sejarah Islam bisa disebut dan disamakan sebagai “gerakan pencerahan” sebagaimana makna gerakan pencerahan yang terjadi di peradaban Barat.

Membahas sebuah peradapan tentunya tak lepas dari unsur pandangan hidup atau worldview. Sebab matrik sebuah peradaban adalah worldview, karena didalam worldview tersebut terdapat konsep-konsep yang membentuk “framework” berpikir baik secara kultural, religius maupun saintifik (Thomas S Kuhn). Oleh sebab itu setiap peradaban memiliki worldview-nya sendiri-sendiri. Bahwa ada proses saling pinjam-memijam antar worldview memang tidak bisa dipungkiri. Namun, proses pinjam-meminjam yang dilakukan oleh ilmuan-ilmuan Muslim terdahulu tersebut bukanlah sekedar pengadopsian semata. Disanalah worldview Islam memainkan peran sentralnya. Konsep Tuhan, konsep hidup, konsep manusia, konsep dunia dan lain-lain, menjadi tameng atau penapis konseptual dan hal ini kadang memerlukan perubahan paradigma dari konsep asing tersebut. Proses tersebut dikenal sebagai proses al-nafyu wa al-ithbaat.

Dalam Islam, sejauh apapun pemikiran berkembang al Qur’an atau wahyu tetap sebagai tolak ukurnya. Perkembangan ilmu Kalam misalnya, bermula dari perdebatan antara ahl Hijaz atau biasa disebut dengan ahl Hadits dengan ahl Iraqy yang dikenal dengan sebutan ahl Ra’y. Namun, baik antara ahl Hadith dengan ahl Iraqy tetap meletakkan nash al Qur’an dan Hadith pada posisi tertinggi pada sumber ilmu dan hukum dalam Islam. Ini bisa dilihat dalam pernyataan dalam surat Imam Abu Hanafi kepada khalifah al Mansur. Imam Abu Hanifah yang dikenal sebagai panutan mahzab Iraq itu menolak tuduhan orang tentang kecenderungannya menggunakan aqal. Beliau tetap menempatkan nash pada posisi tertinggi dan apabila ada perbedaan pendapat maka baru beliau melakukan qiyas.

Sejatinya, perbedaan itu muncul lebih banyak bersifat teknis daripada filosofis. Ahl iraqy banyak menggunakan aqal disebabkan kesulitan untuk mengakses sumber-sumber penting sunnah Rasul karena letak geografisnya yang jauh dari pusat Islam (Mekah dan Madinah). Perkembangan masalah politik yang akhirnya banyak memunculnya hadith-hadith palsu juga menjadi sebab kenapa para fuqaha Iraq sangat berhati-hati dalam mengambil hadits. Hal ini tentunya berbeda dengan kondisi ahl Hijaz (Mekah dan Madinah) yang masih banyak dihuni oleh para sahabat dan tabi’in, mereka tentunya lebih mudah mengakses sumber-sumber utama dalam Islam.

Pada seputaran abad keempat dan kelima Hijrah, perdebatan tersebut mengalami titik klimaksnya. Perdebatan itu terwakili oleh Mu’tazillah (pihak ahl al Ra’y) dengan Asy’ariyah (pihak ahl Hadits). Perdebatan yang terjadi disini lebih bersifat epistemologi, yaitu seputaran diskursus definisi ilmu dan jenisnya, definisi aqal dan batasannya sampai kepada definisi dari definisi itu sendiri. Sebagai contoh, perdebatan mengenai status al Qur’an apakah termasuk mahluk atau bukan. Mu’tazillah berpendapat, bahwa al Qur’an sebagai “Kalam Allah” adalah diciptakan sebagaimana mahluk yang lain. Oleh sebab itu Mu’tazillah memandang al Qur’an bukan sebagai sesuatu yang qodim. Pandangan Mu’tazillah ini berawal dari konteks pembahasan tentang sifat-sifat Allah. Menurut Mu’tazillah sifat-sifat dan dzat Allah itu tidak bisa disamakan dengan mahluk-Nya. Mereka mengganggap bahwa sifat dan dzat Allah itu satu (al sifat ‘ainu al-dhat). Muara dari konsep tersebut adalah tanzih al-Bari (Penyucian Tuhan).

Pendapat Mu’tazillah tentang Khalq al Qur’an (al Qur’an adalah mahluk) ini sebetulnya untuk memperkuat konsep tanzih tersebut. Bagi mereka, Allah harus tersucikan dari segala pemahaman yang mengarah pada penyerupaan sifat mahluk (nafsyu al-tashbih). Namun, pada akhirnya mereka terjebak pada definisi sifat itu sendiri. Sebab, konsep al sifat ‘ainu al-dhat ini telah menafikan sifat ketika mereka menyatukannya dengan dzat. Oleh sebab itu konsep Mu’tazillah ini mendapat kritikan ahlu al-sunnah yang diwakil oleh Asy’ariyah, dengan konsepnya la hiya huwa wa la hiya ghairuhu (sifat bukanlah dzat dan bukan selain dzat) yang menganut pendekatan paradoks.

Perlu diketahui, bahwa Mu’tazillah berpendapat al Qur’an adalah mahluk namun mereka tidak sampai menurunkan derajat posisi nash al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan hukum Islam. Sehingga jelas sudah bahwa dalam pemikiran Islam tidak mengenal dikotomi antara wahyu dan akal, tidak mengenal pemisahan obyektif subyektif dan tidak pula mengakui dikotomi deduktif-induktif, tekstual-kontekstual dan historis-normatif.

Demikian pula, apa yang terjadi dalam sejarah peradaban Islam tidak bisa disamakan dengan peradaban lain, khususnya Barat. Sebagaimana diketahui bersama, Reformasi dan Renaissance pada peradaban Barat muncul akibat problematika teologis dan rasio yang dihadapi Barat. Sejarah problematika Barat tersebut bisa ditelusuri sejak awal Kristianitas berdiri. Ia lahir dalam tradisi Yudaisme dan hegemoni filsafat dan kultur Hellenisme. Awalnya Kristianitas merupakan salah satu sekte kecil Yudaisme kemudian bersintesis dengan tradisi dan filsafat Hellenisme. Hasil sintesa Yudaisme dan Hellenisme inilah yang kemudian secara brilian dikembangkan oleh pemikir berdarah campuran Yahudi Yunani, yakni Saul dari Tarsus atau yang lebih dikenal sebagai Paul of Tarsus (5-67 M).

Hasil sintesa tersebut, oleh Paul of Tarsus kemudian dijadikan basis berdirinya sebuah agama baru yang kemudian dikenal dengan Kristen. (lihat Hyam Maccoby dalam The Mytmaker: Paul and the invention of Cristianity). Dengan demikian, Kristianitas sejak lahirnya memang sudah tersetting sedemikian hingga yang muncul kemudian, meminjam istilah Hyam Maccoby, “Suatu adonan atau ramuan Hellenisme yang brilian, dengan mengaitkan diri secara superficial dengan kitab-kitab suci dan tradisi Yahudi, agar mendapatkan sejarah dan pengakuannya”. George Santayana dalam bukunya, Reason in Religion, juga menyatakan hal yang kurang lebih sama; “Kristianitas dalam bentuknya yang Patristik adalah merupakan pengabdatasian (penyesuaian diri) agama Ibrani kepada dunia Greco-Romawi”.

Oleh karena tabiat dua tradisi (Yudaisme dan Hellenisme) yang berbeda secara fundamental, yang satu berbasis pada supremasi keimanan (wahyu) dan yang satu berbasis pada supremasi akal (reason)- maka praktis “dikotominasi” tak lagi dapat dihindarkan dalam tradisi Kristen. Konsili demi konsili diselenggarakan dalam rangka untuk mencari penyelesaian teologis yang agak mungkin bisa diterima akal dan sekaligus menjembatani gap atau kesenjangan yang memisahkan kedua wilayah tersebut. Namun, justru semakin dicapai sebuah penyelesaian, semakin timbul pula masalah-masalah baru yang berarti pula semakin memperlebar gap tersebut. Maka, tak heran kemudian dalam perkembangan berikutnya tradisi Kristianitas terdapat dua arus kecenderungan dari para teolog dan pemikirnya untuk memihak atau mensupremasi salah satu diantaranya; Akal dan Wahyu.

Puncak dari persengketaan antara akal dan wahyu di Barat adalah “the Galileo Affair” dan “Inquisisi”. Efek dari peristiwa tersebut adalah pengalaman traumatik manusia Barat terhadap agama. Mereka lalu memarginalkan agama, mengangkat doktrin nihilisme nilai, mendobrak teologi dan bahkan “memasung” kekuasaan Tuhan. Agama di Barat akhirnya menjadi obyek kajian para filosof yang tidak mempunyai otoritas. Rasionalisasi agama artinya agama harus tunduk pada pemahaman rasio manusia. Bukan rahasia lagi, teologi di Barat telah menjadi bulan-bulanan para filosuf. Sartre, Heidegger, Jung, Ludwig Feurbach, William James, Nietzsche, Kant dan lain-lain, adalah filosof-filosof yang bicara soal agama.

Sementara jika melihat dalam sejarah Islam, problematika yang dihadapi Barat tersebut tidak pernah terjadi. Konsep Tuhan, konsep hidup, konsep manusia, konsep dunia dan lain-lain, sudah tertata semenjak Islam diturunkan. Jadi naif, jika proses perkembangan ilmu dalam Islam disamakan dengan proses pencerahan yang terjadi di Barat. Nah, Islam saat ini memang membutuhkan “pencerahan”. Pencerahan disini maksudnya adalah mengkoreksi total dan membersihkan Islam dari “tajdid” atau pembaharuan yang hanya menjustifikasi konsep Barat.

Sebab pembaharuan atau “tajdid” semacam itu, menurut Hamid Fahmi Zarkasy tidak akan membawa pencerahan. Namun justru memunculkan banyak kerancuan. Paham, ide, nilai, dan filsafat ilmu Barat modern dan postmodern kini bercampur baur dalam pemikiran Islam. Akhirnya, Muslim berbicara ilmu pengetahuan Islam, sejarah Islam, dan bahkan ajaran Islam dengan pemahaman, nilai, ide, pendekatan, bahkan terminologi Barat.

Hari ini Sebelum kamu mengeluh...

Hari ini Sebelum kamu mengeluh...

Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali

Hari ini Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu...
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Hari ini Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa...
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Hari ini Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk...
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

Hari ini Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu...
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup...

Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu...
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

Hari ini Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu...
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

Hari ini Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yangkotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan dan tidak punya rumah

Hari ini Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah berkendara...
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan kaki

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu...
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda...

Hari ini Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,

Kita semua menjawab kepada Tuhan...

Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan mengucap syukurlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !

Life is a gift….
Live it...
Enjoy it...
Celebrate it...
And fulfill it.

Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
karena anda Menyayangi dan mencintai Mereka,
Jadilah meraka CANTIK dan TAMPAN

Kecantikan bukan diwajah dan ketampanan bukan
digagahnya seseorang, tapi cantik dan tampan muncul
dari HATI, disebut juga dengan Hati Nurani.

MENGELUH ...

Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar. Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan teman-teman lama saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu, dan berbagai macam hal lainnya.
Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing seolah-olah siapa yang paling banyak mengeluh dialah yang paling hebat. "Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!" "Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan "job-des" gue" "Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu".
Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya. Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya. Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.
Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh mungkin
bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.
Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri. Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia ? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin
dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda
harapkan.
Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Try it now:
  1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
  2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
  3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.
"Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri."